Berita
Kasus Leptospirosis di Bantul pada 2025 Meningkat, Warga Diimbau Waspada
2026-01-09 08:41:00
Carik
Srimartani. Kasus Leptospirosis di Kabupaten Bantul pada tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2024. Hingga saat ini tercatat sebanyak 234 kasus dengan jumlah kematian mencapai 12 orang. Angka tersebut menjadikan Bantul sebagai kabupaten dengan kasus Leptospirosis tertinggi di antara kabupaten/kota lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri
Leptospira interrogans
. Penyakit ini dapat menular ke manusia melalui hewan, seperti sapi, kerbau, kuda, domba, kambing, babi, anjing, dan terutama
tikus
. Penularan terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang terluka atau lecet, serta melalui selaput lendir seperti mata, mulut, dan saluran pencernaan akibat kontak dengan air, makanan, atau lingkungan yang terkontaminasi kencing tikus.
Tanda dan gejala klinis Leptospirosis antara lain demam, nyeri kepala, kemerahan pada mata akibat pendarahan, serta nyeri pada betis. Pada kondisi yang lebih berat, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan organ yang ditandai dengan munculnya penyakit kuning, pendarahan, gagal ginjal, hingga berujung pada kematian.
Untuk menekan peningkatan jumlah kasus, penularan, dan kematian akibat Leptospirosis, Lurah Srimartani H.Mulyana menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan. Upaya tersebut antara lain dengan membersihkan rumah dan lingkungan secara rutin guna mengurangi tempat berkembang biaknya tikus, menjaga kebersihan saluran air atau got agar tetap lancar, serta menyimpan dan menutup makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari jangkauan tikus.
Selain itu, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala demam dengan atau tanpa sakit kepala, disertai nyeri otot, lemas, dan memiliki riwayat kontak dengan aktivitas lingkungan yang berisiko. Pengelolaan limbah rumah tangga yang baik, menutup rapat tempat sampah, serta memastikan ketersediaan sumber air bersih yang bebas dari kontaminasi kencing tikus juga menjadi langkah penting dalam pencegahan.
Masyarakat juga diimbau untuk membiasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas, terutama di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, serta menggunakan alas kaki, sepatu, dan masker saat beraktivitas di area berair, berlumpur, atau tergenang yang berpotensi tercemar kencing tikus. Red-Cr.